Mendongeng untuk Anak, Ini 4 Hal Yang Harus Orangtua Lakukan

Suara. com – Mendongeng kerap dilakukan orangtua kepada anaknya, pertama menjelang waktu tidur. Rencana yang dibacakan saat mengarang bisa apa saja, indah fiksi maupun nonfiksi.

Tak hanya sekadar bercerita, zaman mendongeng juga orangtua sering melakukan aksi-aksi kecil, misalnya menggunakan alat peraga seolah-olah boneka. Tujuannya, supaya budak lebih tertarik.

Nah, bagaimana sebenarnya jalan agar anak tertarik di dongeng yang diceritakan oleh orangtua? Berikut tips yang diungkap oleh pendongeng sekali lalu pegiat literasi, Kak Palupi.

1. Mendongeng memakai hati
Mengarang harus dilakukan sepenuh besar. Hanya dengan begitulah rencana dongeng bisa diterima secara baik oleh anak-anak.

Baca Selalu: Edukasi Menerapkan Protokol Kesehatan dengan Dongeng

“Untuk teknik mengarang yang baik itu sejak hati. Karena kalau kita mau mendongeng, kita harus menyenangi dunia dongeng dulu. Jadi anak-anak itu kan makhluk sensitif ya, oleh karena itu mereka bisa merasakan perasaan di sekelilingnya, ” ungkapnya dalam acara Instagram Live Gramedia, Jumat (27/8/2021).

“Jadi kalau mau mendongeng, dibuang dulu perasaan sedih & rasa kesalnya. Dan bawakan dongeng itu dengan hening, ” lanjutnya.

2. Ikut berimajinasi
Seorang pendongeng harus mampu mengimajinasikan sesuatu menggunakan ceritanya. Mulai dari alam, binatang, pelangi, hingga bulan. Dengan teknik imajinasi, kita bisa membawa dunia dongeng sampai ke anak-anak, membuat merek terbuai dan terbawa suasana.

“Kita harus mengimajinasikan sesuatu. Karena saat kita bercerita, tidak mungkin benda-benda konkret kita bawa. Misalkan kayak pelangi, nggak mungkin dong pelanginya ada di bawah, ” papar Kak Palupi.

“Atau kita mau menggunakan visi pohon raksasa, misalnya, nggak mungkin kita bawa pohon raksasa itu, dan kita hanya bisa menyampaikannya lewat imajinasi kita, ” lanjutnya.

Menyuarakan Juga: Guru dan Ortu, Yuk Cari Tahu Tips Mendongeng daripada Pendongeng Profesional!

3. Gunakan ekspresi
Saat berdongeng, ekspresi kita juga harus total. Mulai dari mimik wajah, gerakan, hingga aksen suara. Dengan ekspresi yang mendukung, anak-anak akan memikirkan sebuah cerita yang elegan.