Memahami Suku Sakai, Menolak Dicap Tertinggal dan Terasing

Perkataan. com – Mendengar nama Suku Sakai, banyak orang mungkin berpaham bahwa mereka adalah suku tertinggal dan terasing. Tetapi, cap yang demikian justru yang coba dibongkar sebab salah satu suku tertua pada Sumatera ini.

“Kami tolak cap sebagai Suku Terbuang, sebab masyarakat Sakai telah banyak yang maju, makin menjadi anggota DPRD Bengkalis, Riau, jadi pengusaha, penyambut beasiswa dari perusahaan, dan banyak yang menjadi ahli, ” kata Ketua Molek Kerapatan Adat Batin, Limo Mineh, Riau, Tarmizi L dalam keterangan yang diterima Suara. com, Kamis, (8/4/2021).  

Menggunakan film “Mimpi Anak Sakai Riau” besutan Forum Pewarta Kreatif Riau, mereka berusaha memberi gambaran bahwa asosiasi Sakai tidak lagi mau dicap sebagai suku terbuang atau terisolasi.

Jika mengikuti ke belakang, Sakai tunggal merupakan salah satu suku yang mendiami kawasan daerah Riau di Pulau Sumatera.

Mengaji Juga: Geger! Asap Diduga Gas Tampak di Sipirok, Personel Brimob Turun Tangan

Mengenai Suku Sakai. (Dok: Youtube/Jurnalis Kreatif Riau)

Dikutip dari Indonesia Kaya, nenek moyang Suku Sakai diyakini berasal dari Pagaruyung, sebuah kerajaan Melayu yang sudah ada di Sumatera Barat.

Dahulu, Suku Sakai mempunyai pola kehidupan yang sedang nomaden, berpindah-pindah dari satu kawasan ke kawasan lain.

“Penolakan cap Suku Terasing itu diapungkan lebih sebab bantuan untuk masyarakat Sakai sering datang terlambat, dan karena alasan lainnya, ” katanya.

“Kami ingin lebih ingin mendapatkan keadilan bekerja di dunia apa saja, karena anak-anak Sakai kini tidak teristimewa buta huruf, ” kata Tarmizi lagi.

Dekan Fakultas Komunikasi UMRI, Jayus mengantarkan siap untuk bermitra secara Forum Jurnalis Kreatif Riau untuk membuat film lainnya dan membantu memproduksi satu film lagi untuk memajukan terhapusnya secara bertahap cap terisolasinya masyarakat Sakai sebagai Suku terasing itu.

Baca Selalu: TNI AL Amankan 36 Pekerja Migran Akan Diselundupkan ke Malaysia

“Tentunya kita perlu melakukan riset serta menayangkan film dokumenter itu dalam berbagai kesempatan didukung sebab jejaring sosial yang dimiliki UMRI terkait edukasi mengenai masyarakat Sakai itu saat ini sudah seperti apa dan tidak terisolasi lagi, ” katanya.