Institusi POM Ungkap Alasan Penting Membaca Label dalam Keluaran yang Dipakai

Suara. com semrawut Bukan hanya tulisan tak bermakna, label dalam kemasan produk dibuat untuk melindungi konsumen.

Melalui label tersebut, konsumen bisa mengetahui isi dan  keterangan lengkap mengenai manfaat, kesejahteraan, dan cara penggunaan serta informasi lain yang berhubungan dengan produk yang bakal dipakai.

Dikatakn Direktur Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Komestik Badan Pengawas Obat & Makanan atau Badan POM, Dwiana Andayani, penandaan di kemasan produk harus memenuhi kriteria yaitu lengkap, objektif, dan tidak menyesatkan.

“Jangan yang bagus-bagus aja, rujukan juga harus dicantumkan pada kemasan, ” imbuh Dwiana dalam webinar yang digelar oleh BPOM, Rabu (15/9/2021) seperti yang dikutip daripada ANTARA.

Baca Juga: Indeks Keyakinan Konsumen Paling Rendah dalam 12 Tahun Terakhir

Adapun fakta minimal yang harus tercantum pada penandaan produk, kata Dwiana, di antaranya individualitas produk yang meliputi tanda produk, ukuran, isi, mengandung bersih, nomor izin edar, nomor bets atau kode produksi, dan 2D barcode.

“Jangan sampai tidak mencantumkan izin edar karena bisa diamankan oleh petugas sebab dianggap tidak punya permisi, ” kata Dwiana.

Lalu, formula dan cara penerapan, klaim khasiat, kontraindikasi, efek samping, peringatan, kadaluwarsa, dan kondisi penyimpanan.

“Klaim kegunaan yang diajukan ke BPOM dan dicantumkan pada penandaan tentunya harus sama dan didukung oleh data empiris, ” ujar Dwiana.

Dwiana juga mengutarakan informasi perusahaan meliputi tanda dan alamat produsen, tanda dan alamat importir, tanda dan alamat pemberi dan/atau penerima kontrak, hingga nama dan alamat pemberi dan/atau pemberi lisensi, tak tergelincir penting untuk dicantumkan di kemasan.

Baca Juga: Program Careline Danone SN Indonesia Diapresiasi 2 Penghargaan Customer Service 2021

Kemudian untuk obat tradisional yang diproduksi di Nusantara, Dwiana mengatakan perusahaan tetap mencantumkan logo dan karya Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), atau Fitomarmaka.

Belakang, yang tak kalah penting untuk dicantumkan, kata Dwiana, adalah kadar alkohol di bentuk persentase jika buatan mengandung alkohol, tanda khusus “Mengandung Babi” jika di pembuatan produk bersinggungan dengan bahan yang berasal daripada babi, logo halal, mematok informasi nilai gizi.

“Jadi semua itu penting sekali agar konsumen mudah mengaduk-aduk produk yang sesuai secara kebutuhan, dan melindungi konsumen dari produk-produk yang tidak memenuhi syarat, ” ujar Dwiana.